False Consensus Effect

asumsi bahwa semua orang setuju dengan pendapat kita

False Consensus Effect
I

Pernahkah kita memposting sebuah opini di media sosial, merasa yakin seratus persen bahwa semua orang akan setuju, tapi ternyata kolom komentar malah penuh dengan orang yang menyerang kita? Atau mungkin contoh yang lebih sederhana saja. Kita merasa bahwa memakan bubur ayam tanpa diaduk adalah sebuah kebenaran absolut, lalu kaget setengah mati saat melihat teman semeja kita mengaduk buburnya sampai hancur. Saat itu terjadi, kita sering membatin, "Kok bisa sih ada orang yang mikir kayak gitu? Aneh banget." Rasa heran ini sangat wajar. Otak kita seolah tidak bisa memproses fakta bahwa sesuatu yang terasa sangat masuk akal bagi kita, ternyata dianggap omong kosong oleh orang lain.

II

Perasaan kaget semacam itu sebenarnya punya sejarah panjang dan menggelitik di dunia psikologi. Mari kita mundur sejenak ke tahun 1977. Saat itu, seorang psikolog bernama Lee Ross membuat sebuah eksperimen lucu di Universitas Stanford. Ia mendatangi sekumpulan mahasiswa dan meminta mereka untuk berjalan berkeliling kampus selama tiga puluh menit. Syaratnya, mereka harus memakai papan reklame besar bertuliskan "Makanlah di Joe's". Ross kemudian menanyakan satu pertanyaan sederhana kepada mereka: "Kira-kira, berapa banyak mahasiswa lain di kampus ini yang bersedia memakai papan konyol ini?" Hasilnya sungguh membuka mata kita tentang cara kerja pikiran manusia.

III

Mahasiswa yang setuju memakai papan itu merasa sangat yakin bahwa mayoritas orang lain juga akan setuju untuk memakainya. Di sisi lain, mahasiswa yang menolak keras memakai papan tersebut, juga sangat yakin bahwa hampir semua orang waras di kampus pasti akan menolak. Keduanya sama-sama menggunakan diri mereka sendiri sebagai standar kewarasan dunia. Tapi, mengapa otak kita bermain trik seperti ini? Secara evolusioner, manusia adalah makhluk sosial. Di zaman purba, terasing dari kelompok sama dengan mati dimakan pemangsa. Otak kita dirancang untuk mencari rasa aman dengan cara merasa "sama" dengan kawanannya. Ditambah lagi, ada konsep psikologi yang disebut availability heuristic atau jalan pintas kognitif. Karena kita setiap hari bergaul dengan orang-orang yang mirip dengan kita—keluarga, teman satu sirkel, hingga algoritma media sosial yang menyuapi konten yang itu-itu saja—otak kita akhirnya menyimpulkan sebuah kebohongan besar: bahwa seluruh dunia ya seperti itu bentuknya. Namun, coba bayangkan apa jadinya kalau jalan pintas mental ini kita bawa ke urusan yang lebih besar, seperti menyikapi pilihan politik atau kebijakan publik?

IV

Inilah titik di mana ilusi itu terungkap, sebuah fenomena yang oleh para ilmuwan disebut sebagai False Consensus Effect atau efek konsensus palsu. Ini adalah sebuah bias kognitif di mana kita melebih-lebihkan sejauh mana orang lain setuju dengan keyakinan, nilai, dan perilaku kita. Saat kita terjebak dalam jebakan False Consensus Effect, kita tidak hanya sekadar salah tebak angka statistik. Bahaya aslinya jauh lebih merusak. Kita mulai melihat orang yang berbeda pendapat sebagai pihak yang cacat logika, jahat, atau kurang edukasi. Padahal, dalam kebanyakan kasus, mereka tidak jahat atau bodoh. Mereka hanya memandang dunia menggunakan kacamata pengalaman yang sama sekali berbeda dengan kita. Efek psikologis inilah yang sering menjadi bahan bakar utama mengapa perdebatan di internet bisa dengan cepat berubah menjadi arena caci maki yang tidak ada ujungnya.

V

Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak terus-terusan menjadi korban dari ilusi otak kita sendiri? Kuncinya ada pada empati dan kerendahan hati intelektual. Mulai sekarang, setiap kali kita merasa pendapat kita adalah "akal sehat" yang pasti disetujui oleh semua orang, coba ambil napas sebentar. Sadari bahwa otak kita mungkin sedang mengambil jalan pintas yang malas. Mari kita berlatih untuk lebih sering bertanya dengan rasa ingin tahu, alih-alih langsung menghakimi. Menyadari bahwa dunia ini jauh lebih luas dan lebih bising dari sekadar apa yang bergema di dalam kepala kita, adalah tanda kedewasaan yang sesungguhnya. Percayalah, teman-teman, dunia kita akan terasa menjadi tempat yang jauh lebih hangat dan asyik kalau kita berhenti menuntut semua orang untuk memikirkan hal yang sama.